Sejarah Manusia Purba Homo Wajakensis

Homo Wajakensis
Sumber: bungdus

Secara fisik serta kualitatif orang purba tipe Homo ini telah lebih maju dansempurnya bila dibanding dengan tipe orang purba Meganthropus maupunPithecanthropus. Dengan cara raga, cirri-ciri orang homo telah mendekati denganmanusia modern saat ini, semacam wujud kepalanya yang telah tidak bulat panjang. Dengan cara kualitatif, tingkatan kecerdasannya telah lebih besar sebab telah mampumenggunakan alat-alat dari batu serta tulan. Di sisi itu dalam mencari merekatelah memakai alat-alat pelacakan. Mereka pula sudah memahami api karenabinatang hasil buruannya dikuliti dulu saat sebelum terbakar. Begitu pula jenisumbi-umbian yang jadi santapan mereka pula sudah dimasak terlebih dahulusebelum dikonsumsi.

Walaupun begitu, orang purba tipe Homo ini sedang hidupsecara berpindah-pindah (nomaden) mereka hidup beralih tergantung padapersediaan santapan yang ditemui di alam sekitanya (food gathering). Manusiapurba tipe Homo dalam mancari santapan dengan mencari menggukan alat-alat daribatu serta tulang dan cula fauna. Ilustrasi alat-alat perkakas yang merekagunakan dari batu berbentuk bermacam tipe kapak, alat-alat serpih (flakes). Mereka pula memakai alat-alat yang dibuat dari tulang semacam perlengkapan penusuk (pedang), akhir cengkal, serta perlengkapan pengorek ketela dan keladi. Di sisi itu adaalat-alat mencari berbentuk mata cengkal yang dibuat dari tulang

ikan pari. Ada pula alat-alat yang dibuat daritanduk berbentuk cula kijang ataupun rusa yang diruncingkan. Alat-alat perkakaspeninggalan insan homo itu ditemui di daerah-daerah dekat Ngandongdan Sidorejo (Ngawi), ialah berbentuk bermacam tipe kapak batu, perlengkapan pelempardari batu, perlengkapan perimbas dari tulang ataupun cula.

Saat sebelum mangulas mendalam hal orang purba di wilayah Tulungagung yang populer dengan gelar orang Homo Wajakensis, lebih bagus kita telusuri di mana tempatnya diketemukan orang purba itu. Pada dasarnya hal posisi diketemukannya orang purba Wajakensis sedang hitam. Kebanyakan warga beranggapan jika julukan wilayah” Wajak” kehadiran daerahnya terletak di wilayah Boyolangu yang saat ini kita tahu. Di atas telah sedikit dijamah hal memoar Dubois mengenai temuan dini fosil orang wajakensis yang terletak di wilayah tembang pualam.

Pada tahun 1859 Meter, Pegunungan Gamping selatan wilayah Campurdarat, durasi itu sedang diucap dengan area Wajak. Wilayah itu persisnya terletak di Dusun Gamping, di mana pada wilayah itu ada pengerukan tambang pualam. Tetapi bila kita kronologikan, hingga julukan wilayah yang diartikan” Wajak” pada era temuan web fosil orang purba itu merupakan di wilayah Campurdarat, Tulungagung bagian selatan.

Di wilayah selatan Tulungagung, ialah persisnya di wilayah area Wajak pada tahun 1889 diketemukan sisa-sisa orang purba, tercantum tipe orang yang sangat belia, oleh para pakar digolongkan ke dalam tipe orang pintar (Homo Sapiens) (Anonim; 1971: 6). Fosil tenggkorak orang purba, pada tahun 1889 Meter terkini diketemukan oleh B. D. Van Rietschouten serta temuan fosil itu dikenal dengan Wajak I. Sehabis itu fosil Wajak II diketemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1890. dari situlah mulai terkuaknya tabir rahasia sesuatu fosil orang purba yang kesimpulannya dikenal dengan gelar orang purba Homo Wajakensis. Orang purba Homo Wajakensis itu ialah tipe orang belia yang digolongkan bagaikan orang pintar serta tercantum keterangan dalam Homo Sapiens.

Homo Wajakensis ialah mendekati dengan orang Australia berumur dari Australia. Sebab itu, Eugene Dubois ialah sudah berprasangka kalau Homo Wajakensis merupakan suku bangsa Australoide. Ataupun kakek moyang yang memiliki sesuatu aluran dalam keluarga langsung dengan masyarakat asli Australia.

Orang Wajakensis mulai menabur ke area barat serta timur daratan Australia. Rahang dasar serta rahang atas orang purba ini amat mendekati kepada orang purba suku bangsa Australia. Fosil ini ialah bisa ditemui di Talgai serta Keilor, yang sudah lama hidup di area Australia dan Irlandia.

Bagi para pakar, Homo Wajakensis ialah sesungguhnya serupa dengan Homo Soloensis, dalam tipe kedua genus ini, ialah berawal dari suatu Plestocene yang sudah dikelompokkan. Sebab terdapatnya suatu watak raga yang dekat dengan orang dikala ini.

Dalam tipe orang purba ini, yang bermukim di Indonesia. Fosil Homo wajakensis ialah sudah ditemui tahun 1889 oleh van Riestchoten, tercantum di antara orang purba dengan umur paling muda.

Sumber/referensi: https://bungdus.com/homo-wajakensis/