Sikap Egois Tak Selalu Salah

Sikap Egois Tak Selalu Salah

pascal-edu.com – Sepulang kantor, si kecil Raka (5) curhat, “Kak Vira itu egois, Bu. Dia kalau mau pinjam sesuatu punyaku, aku kasih. Tapi aku cuma mau pinjam Ipad-nya sebentar aja enggak boleh. Kak Vira sering banget kayak gitu, Bu. Kalau giliran aku yang perlu dan butuh, dia enggak mau kasih dan bantu.” Saya mendengarkan dengan saksama curhat si kecil yang tampak memendam amarah pada si kakak yang kini di kelas 5 SD. Saya perhatikan, rasanya curhat si adik mengenai keegoisan si kakak ini cukup sering dikemukakan.

Mengingat perilaku egois bukan hal yang positif, saya tentunya tak ingin Vira akan tumbuh besar menjadi pribadi yang selalu mementingkan dirinya sendiri. Untuk itu, saya segera berkonsultasi dengan psikolog di sekolahnya, Agustina Untari, Psi., supaya saya mendapat solusi yang tepat bagaimana menangani keegoisan Vira. Inilah hasil obrolan saya dengan psikolog yang akrab dipanggil dengan Agustina itu. T: Bu Agustina, terus terang saya resah, kok anak sulung saya terlihat egois sekali. Bahkan sama adiknya jarang sekali mau berbagi? J: Ibu, sebelumnya saya luruskan dulu, bahwa istilah “egois” itu bukan istilah ilmiah ataupun jargon dalam psikologi; sama halnya dengan temperamental.

Jadi, pemahaman mengenai konsep “sikap egois” mungkin seperti yang dipahami dalam keseharian yang dijumpai, yaitu suatu sikap mementingkan diri sendiri dan tidak (atau kurang) peduli pada kepentingan orang lain. Sikap mementingkan diri sendiri ini sesungguhnya, kalau dilihat dari perkembangan kognitif, sudah dimulai di usia balita. Tepatnya saat mereka mampu menyatakan sudut pandang sendiri, dan mengganggap sudut pandangnya lebih baik daripada milik orang lain (egosentris).

Dilihat dari segi kognitif, berarti terjadi perkembangan positif karena artinya si anak sudah bisa memasukkan sudut pandang dirinya sendiri dan sudut pandang orang lain, sebagai bagian dari pertimbangannya. Dengan kata lain, anak usia SD sebetulnya tidak kurang egois dari pada anak usia muda di bawahnya, sepanjang perkembangan anak dalam kondisi normal. T: Tapi apa iya sikap egois ini harus menetap terus.

Kan seharusnya semakin besar, egoisnya semakin hilang? J: Sikap egois tidak selalu salah, kok Bu. Sikap mementingkan kepentingan diri sendiri itu penting juga untuk pertahanan hidup. Namun, memang harus proporsional. Jangan sampai asyik mementingkan diri sendiri, sehingga tidak peduli pada kepentingan orang lain. Tentunya ini menjadi tidak sehat. T: Saya juga heran, Bu, kenapa anak saya ini kok egois sekali, padahal saya tidak pernah mengajarkan hal ini.