Sikap Egois Tak Selalu Salah Bagian 2

Sikap Egois Tak Selalu Salah Bagian 2

sat-jakarta.com – Bahkan saya selalu menunjukkan kepada anakanak untuk selalu peduli pada orang lain. J: Saya memuji apa yang dicontohkan Ibu kepada anak-anak, yaitu selalu peduli pada orang lain. Ini bisa mengurangi keinginan anak untuk selalu berpikir tentang dirinya. Jangan putus asa, teruslah menunjukkan dan mencontohkan sikap peduli yang semoga akan ditiru an anak. Tapi memang, selalu saja ditemui pada anak-anak SD, bahkan yang sudah di kelas akhir sekalipun, yang masih bersikap egois. Biasanya karena hasil dari pola asuh yang tidak tepat.

Ada dua hal yang mendasari, pertama, kemungkinan orangtuanya menerapkan pola asuh permisif. Semua keinginan anaknya dipenuhi tanpa mempertimbangkan keinginannya itu perlu diprioritaskan atau tidak, juga apakah keinginannya itu bisa mengganggu kepentingan orang lain. Semua dipenuhi tanpa dipikir dulu. Kemungkinan lainnya, anak sering dipaksa untuk berbagi, padahal dia tidak sedang ingin berbagi atau memang ada halhal atau benda-benda yang tidak ingin dibaginya. Ini membuat si anak merasa, kepentingannya atau privasinya tidak cukup diperhatikan/dihargai oleh orang lain.

Anak jadi ekstra keras menjaga kepentingannya. T: Bagaimana ciri-ciri anak yang egois? J: Perilaku anak yang egois di usia SD bisa kita kenali dari perilakunya yang tidak mencerminkan ketidakpedulian atas kepentingan orang lain, seperti sulit berbagi seperti makanan, buku bacaan atau mainan; tidak peka pada teman-teman yang membutuhkan bantuan; memaksakan kehendak, atau sulit mengikuti aturan/norma yang ditujukan untuk menjaga kepentingan bersama seperti tak mau antre. T: Apa akibatnya kalau anak yang egois ini tidak ditangani? J: Anak yang kurang peduli pada orang lain biasanya mengalami kesulitan untuk bersosialisasi.

Sebabnya, temantemannya merasa tidak nyaman bergaul dengannya. Bisa juga anak mendapat label negatif dari teman-teman. Dengan label ini, sulit baginya untuk menjalin hubungan yang positif dan sehat dengan orang-orang di sekitarnya. Anak egois umumnya juga kurang empati pada orang lain, sehingga berisiko melanggar hak-hak orang lain. Selain itu, anak juga sulit untuk menghargai dan berdisiplin mengikuti aturan dan norma sosial yang berlaku di rumah maupun di sekolah.

Pada gilirannya, kondisi-kondisi seperti itu akan membuat anak menjadi sering terlibat kon­ ik dengan orang-orang di sekitarnya. Kalau di rumah, mungkin ia jadi sering berselisih dengan kakak atau adiknya. Sedangkan di sekolah, hal ini membuat anak sulit untuk mengambil manfaat terbaik dari kegiatan belajarnya. Nah, Mama n Papa, mulai sekarang mari lebih bijak menghadapi sikap egosentris si buah hati.